Hanya Sekedar Tulisan

Aku sudah melihat berbagai hal yang ada di sekitarku. Tak semuanya baik, dan tak semuanya buruk, itu menurutku. Aku melihatnya dari sudut pandang sebagai seorang masyarakat biasa. Banyak hal yang dapat membuatku menangis, baik itu hal yang menyedihkan, mengharukan bahkan menggembirakan. Aku bahkan bisa menangis ketika melihat seorang bapak sedang membawa becak dayungnya baik itu berisi penumpang ataupun tidak, dengan wajah penuh peluh. Dia sangat kurus, dan sudah tua. Tampaknya dia kelelahan.
Temanku pernah bercerita, dia pulang dari kampus dan ingin segera tiba di kost. Namun, dia malas berjalan, karena panasnya matahari di siang bolong. Akhirnya, dia menaiki sebuah becak. Rasanya, sangat lama becak ini tiba di depan kost, temanku baru sadar yang dia naiki becak dayung. Dia menyuruh, untuk berhenti di simpang kost, karena memang jalan menuju kost belum diaspal, pokoknya rusaklah. Katanya, dia tidak tega untuk menyuruh bapak itu untuk melewati jalan rusak itu. Tentunya, itu akan sulit bagi dia. Dia memberi selembar uang 5000 kepada tukang becak. Senyum terpancar di wajah Sang Bapak… Aku menyadari, mungkin tak hanya aku yang merasa kasihan dengan tukang becak dayung.
Aku juga pernah melihat, seorang penjual cermin keliling berhenti di sebuah cafe, untuk istirahat dan menikmati segelas teh manis dingin. Biasanya, di cafe..kita membayar setelah menikmati. Lain hal dengan bapak itu, dia langsung membayar minumannya ketika teh manis dingin diantarkan kepadanya. Aku bingung, mengapa aku harus mempersoalkan hal tersebut. Aku punya jawaban, tapi tak bisa diungkapkan.
Aku juga bisa menangis ketika membayangkan, seandainya seseorang yang aku sayangi berada sangat jauh dariku. Itu benar-benar menyedihkan. Ketika kamu mengingat, hal-hal indah yang pernah kalian lakukan berdua. Baru kemarin dia ada di sini, tapi hari ini dia tak di sini lagi. Hanya dalam beberapa jam kalian telah terpisahkan oleh tempat. Kamu merasa menjadi orang paling menyedihkan. Merasa sendiri…di antara keramaian kampusmu. Berusaha untuk kuat di depan orang banyak, tapi ketika kamu sendiri, kamu menangis. Hal yang paling ditakutkan sebenarnya, kamu atau dia atau bahkan kalian berdua bisa saja berubah. Tak seorang pun mengharapkannya. Di saat-saat jauh, kamu hanya perlu setia, percaya, dan mengingat akan…
Aku pernah menonton sebuah film luar negeri. Dikatakan bahwa, untuk melupakan seseorang, kamu hanya perlu dua hal. Waktu dan seseorang. Aku sangat setuju dengan pendapat tersebut. Sewaktu SMA, temanku pernah putus dengan pacarnya. Dia sangat sedih. Aku berkata padanya, kamu hanya memerlukan dua hal untuk dapat melupakan mantan pacarmu, waktu dan seseorang. Dia berkata lagi, tak semudah membalikkan telapak tangan. Itu benar, hal sekecil apa pun, tak semudah membalikkan telapak tangan. Kita hanya perlu bersabar, dan membuat pergerakan yang progress. Jangan hanya diam di tempat untuk mengharapkan perubahan.
Aku jadi bingung sendiri. Darimana aku mendapatkan kata-kata untuk menuliskan semua kalimat di atas. Itu datang tiba-tiba, seperti sesuatu. Aku hanya perlu ketenangan, waktu, dan pengalaman untuk menuliskan ini semua. In silentio et spe fortitude mea (Dalam keheningan dan harapan akan muncul kekuatan). Aku senang dengan kalimat yang satu ini, sejak pertama kali aku mencatatnya di buku harianku. Aku mendapatkannya dari kalender yang dibagi oleh sekolahku waktu SMA, setiap akhir semester genap, menjelang liburan natal dan pergantian tahun.
By: Asri Maulina Siahaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s